Tuesday, September 8, 2026

Yield Mereda, Hang Seng Bangkit

 


PT Rifan Financindo - Indeks Hang Seng menguat 0,6% atau sekitar 150 poin ke level 25.459 pada perdagangan Kamis (03/09). Bursa Hong Kong mengikuti kenaikan pasar Asia setelah tekanan dari pasar obligasi global mulai mereda.

Berhentinya aksi jual obligasi membantu menurunkan kekhawatiran bahwa kondisi keuangan akan semakin ketat. Saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga kembali memperoleh dukungan dari investor.

Sentimen turut membaik setelah data ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja swasta AS lebih lemah dari perkiraan. Komentar Presiden The Fed New York John Williams juga dinilai meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan terbaru terhadap Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Pernyataan tersebut membantu mengurangi kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan, sementara penurunan minyak memberikan kelegaan terhadap risiko inflasi dan biaya energi.

Saham teknologi dan keuangan menjadi penopang utama pasar. Tencent naik 0,4%, Lenovo menguat 1,1%, MiniMax bertambah 1%, AIA melonjak 1,8%, dan Akeso memimpin kenaikan sebesar 3%.

Namun, saham Shein masih berada dalam tekanan setelah merosot lebih dari 5% ke HK$46 pada perdagangan Rabu. Penurunan tersebut terjadi pada hari kedua perdagangan perusahaan di Bursa Hong Kong setelah debut yang kurang meyakinkan.

Menurut analisis Newsmaker, Hang Seng berpeluang melanjutkan pemulihan apabila yield global dan harga minyak tetap menurun. Namun, data Nonfarm Payrolls AS yang kuat dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, mengangkat yield, dan menekan saham teknologi Hong Kong. PT Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Monday, September 7, 2026

Indeks Hang Seng Melonjak 1,75% Ditengah Sentimen Global

 


Rifan Financindo - Indeks Hang Seng ditutup menguat tajam pada perdagangan Jumat (4/9), naik sekitar 1,75% setelah sempat melonjak lebih dari 2% pada sesi pagi. Penguatan tersebut membawa bursa Hong Kong menjauh dari tekanan pada sesi sebelumnya, sekaligus menunjukkan kinerja yang lebih solid dibandingkan pasar saham China daratan yang justru berakhir melemah.

Sentimen positif terutama datang dari reli Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Bursa saham Amerika Serikat menguat setelah imbal hasil obligasi Treasury mereda dan saham-saham teknologi besar kembali mencatat kenaikan. Pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang membuka peluang mempertahankan suku bunga pada pertemuan September juga membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap pengetatan moneter lebih lanjut.

Hang Seng sempat menguat hingga sekitar 25.737 pada akhir sesi pagi, naik 2,08% atau lebih dari 524 poin. Meski sebagian kenaikan tersebut terpangkas menjelang penutupan, indeks tetap mampu mengakhiri sesi dengan penguatan 1,75%. Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan Shanghai Composite yang ditutup turun sekitar 0,3%, menunjukkan minat investor terhadap saham Hong Kong relatif lebih kuat pada perdagangan hari ini.

Penguatan pasar Asia secara luas turut memberikan dukungan. Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan juga bergerak positif, sementara investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed setelah komentar Waller. Meski demikian, pasar masih mencermati tingginya harga minyak akibat konflik Amerika Serikat-Iran yang berpotensi kembali menekan inflasi global dan mengubah arah ekspektasi kebijakan moneter.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat malam. Data tenaga kerja yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, sehingga berpotensi menjaga sentimen positif pada saham Asia. Sebaliknya, data yang jauh lebih kuat dari perkiraan dapat kembali meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga dan memicu volatilitas ketika pasar Hong Kong dibuka kembali.(yds)  Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker


Sunday, September 6, 2026

Indeks Hang Seng Melonjak 1,75% Ditengah Sentimen Global

 


PT Rifan - Indeks Hang Seng ditutup menguat tajam pada perdagangan Jumat (4/9), naik sekitar 1,75% setelah sempat melonjak lebih dari 2% pada sesi pagi. Penguatan tersebut membawa bursa Hong Kong menjauh dari tekanan pada sesi sebelumnya, sekaligus menunjukkan kinerja yang lebih solid dibandingkan pasar saham China daratan yang justru berakhir melemah.

Sentimen positif terutama datang dari reli Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Bursa saham Amerika Serikat menguat setelah imbal hasil obligasi Treasury mereda dan saham-saham teknologi besar kembali mencatat kenaikan. Pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang membuka peluang mempertahankan suku bunga pada pertemuan September juga membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap pengetatan moneter lebih lanjut.

Hang Seng sempat menguat hingga sekitar 25.737 pada akhir sesi pagi, naik 2,08% atau lebih dari 524 poin. Meski sebagian kenaikan tersebut terpangkas menjelang penutupan, indeks tetap mampu mengakhiri sesi dengan penguatan 1,75%. Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan Shanghai Composite yang ditutup turun sekitar 0,3%, menunjukkan minat investor terhadap saham Hong Kong relatif lebih kuat pada perdagangan hari ini.

Penguatan pasar Asia secara luas turut memberikan dukungan. Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan juga bergerak positif, sementara investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed setelah komentar Waller. Meski demikian, pasar masih mencermati tingginya harga minyak akibat konflik Amerika Serikat-Iran yang berpotensi kembali menekan inflasi global dan mengubah arah ekspektasi kebijakan moneter.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat malam. Data tenaga kerja yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, sehingga berpotensi menjaga sentimen positif pada saham Asia. Sebaliknya, data yang jauh lebih kuat dari perkiraan dapat kembali meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga dan memicu volatilitas ketika pasar Hong Kong dibuka kembali.(yds) PT Rifan.


Sumber : Newsmaker


Thursday, September 3, 2026

Indeks Hang Seng Nyaris Datar, Pasar Tunggu Data Kerja AS

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Hang Seng menutup perdagangan Kamis (3/9) nyaris datar di level 25.317,49, naik tipis sekitar 0,02% dari penutupan sebelumnya di 25.311,21. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 25.294 hingga 25.538, mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah suku bunga Federal Reserve.

Sentimen pasar Hong Kong tertahan oleh tekanan di sektor teknologi, sementara saham properti dan material membantu menahan pelemahan indeks. Hang Seng Tech sempat turun sekitar 0,6%, sedangkan saham properti di kawasan China-Hong Kong mencatat rebound kuat setelah beberapa sesi tertekan. Investor juga masih mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September, yang dapat memengaruhi arus modal dan valuasi saham-saham growth.

Di sisi lain, penurunan yield obligasi global dan koreksi harga minyak memberikan sedikit dukungan bagi sentimen risiko. Namun, ketidakpastian geopolitik AS-Iran dan volatilitas sektor teknologi membuat investor tetap selektif. Dengan penutupan yang hampir datar, arah Hang Seng berikutnya kemungkinan akan sangat bergantung pada hasil data Nonfarm Payrolls AS dan perkembangan ekspektasi kebijakan moneter global.(yds) PT Rifan Financindo Berjangka.


Sumber : NewsMaker

Wednesday, September 2, 2026

Saham BYD Bebani Bursa Hong Kong

 


PT Rifan Financindo - Indeks Hang Seng bergerak sedikit melemah pada Rabu (2/9) ke level 25.311,21 pada perdagangan Hong Kong. Pergerakan indeks relatif terbatas karena tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar diimbangi oleh penguatan saham lainnya.

BYD menjadi saham yang memberikan tekanan terbesar terhadap indeks setelah merosot 3,4%. Penurunan produsen kendaraan listrik tersebut membebani sentimen terhadap sektor otomotif dan industri.

Contemporary Amperex Technology atau CATL mencatat penurunan terbesar dalam persentase dengan anjlok 4,7%. Sektor perdagangan dan industri menjadi kelompok yang memimpin pelemahan pasar.

Sebanyak 47 dari 93 saham anggota Hang Seng ditutup melemah, sedangkan 43 saham lainnya menguat. Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual belum menyebar secara merata ke seluruh pasar.

Menurut analisis Newsmaker, Hang Seng berpotensi bergerak konsolidatif selama tekanan pada BYD, CATL, dan saham industri masih berlanjut. Penguatan yang lebih luas pada sektor lain dibutuhkan untuk menahan indeks agar tidak mengalami koreksi lebih dalam.(yds) PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker



Tuesday, September 1, 2026

Indeks Hang Seng Turun 0,9%, Yield dan Minyak Tekan Pasar

'image.png' failed to upload. RpcError

Rifan Financindo - Bursa saham Hong Kong ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/9) karena kenaikan yield obligasi global dan harga minyak membuat investor tetap berhati-hati di tengah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Indeks Hang Seng turun 237,26 poin atau 0,9% menjadi 25.329,73. Sementara itu, Hang Seng China Enterprises Index melemah 50,54 poin atau 0,6% ke level 8.462,64.

Tekanan terhadap pasar meningkat setelah yield obligasi global menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun. Harga minyak yang bertahan di atas US$91 per barel memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga, terutama setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.

Dari sisi korporasi, SHEIN Global mengakhiri debut perdananya dengan penurunan tipis 0,1% ke HK$48,50, sedikit di bawah harga penawaran HK$48,56. Mech-Mind Robotics juga melemah 1,9% menjadi HK$99,80 pada hari pertama perdagangan, dibandingkan harga penawaran HK$101,70.

Sementara itu, NIO melaporkan pengiriman 35.836 kendaraan sepanjang Agustus, meningkat 14,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, saham perusahaan justru ditutup turun lebih dari 6%.

Analisa Newsmaker: Pelemahan bursa Hong Kong menunjukkan bahwa sentimen global masih lebih dominan dibandingkan katalis korporasi individual. Kenaikan harga minyak berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sementara lonjakan yield obligasi meningkatkan biaya pendanaan dan menekan valuasi saham. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda dan harga energi tetap tinggi, Hang Seng berpotensi tetap menghadapi tekanan volatilitas dalam jangka pendek.(yds) Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Monday, August 31, 2026

Bursa HK Turun Tipis Ditengah Konflik AS-Iran dan Prospek Kenaikan Suku Bunga

 


PT Rifan - Bursa saham Hong Kong ditutup sedikit melemah pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mendorong harga minyak naik serta memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global. Indeks Hang Seng turun 17,80 poin atau sekitar 0,1% menjadi 25.566,99. Sementara itu, Hang Seng China Enterprises Index justru naik 22,79 poin atau 0,3% menjadi 8.513,18. Tekanan serupa terlihat di sejumlah bursa Asia setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Sentimen investor semakin tertekan setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan pernyataan bernada hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan inflasi bergerak menuju target 2%. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Kekhawatiran terhadap inflasi juga meningkat setelah konflik AS-Iran kembali mendorong harga minyak. Brent sempat naik hampir 3% ke kisaran US$90 per barel setelah pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. Harga energi yang kembali tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan membuat ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter semakin sempit.

Dari China, sentimen pasar turut dibayangi lemahnya aktivitas ekonomi. Data manufaktur Agustus masih menunjukkan kontraksi, sementara perlambatan aktivitas bisnis membuat investor tetap berhati-hati terhadap prospek pemulihan ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Kondisi ini membatasi kemampuan saham-saham Hong Kong untuk mencatat penguatan lebih besar di tengah tingginya risiko global.

Di tingkat korporasi, saham HUTCHMED (China) melemah lebih dari 2% meskipun perusahaan mengumumkan hasil positif dari uji klinis fase III SANOVO. Kombinasi ORPATHYS dan TAGRISSO menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik dan klinis terhadap progression-free survival pada pasien kanker paru non-small cell tertentu. Hasil tersebut memperkuat prospek pengembangan terapi HUTCHMED, meski belum mampu mengimbangi tekanan jual pada sahamnya di sesi perdagangan.

Analisa Newsmaker: Pergerakan Hang Seng saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal daripada fundamental korporasi domestik. Eskalasi AS-Iran, kenaikan minyak, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menciptakan kombinasi negatif bagi aset berisiko. Selama minyak bertahan tinggi dan pasar terus memperhitungkan kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat, indeks Hang Seng berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan defensif. Data tenaga kerja AS pekan ini akan menjadi perhatian berikutnya karena dapat memperkuat ataupun meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga September.(yds) PT Rifan.


Sumber : NewsMaker