Thursday, May 7, 2020

Ternyata Ada Gempa di Bulan!

Ilustrasi Super Moon

Rifan Financindo - Laporan terbaru dari Brown University menemukan bukti adanya 'aktivitas seismik' baru-baru ini yang didukung oleh tanda-tanda yang muncul di Bulan. Ilmuwan yakin bahwa permukaan bulan menunjukkan pergerakan lempeng tektonik, sebagaimana dilansir Happy Mag.

Kutub Selatan-Aitken Bulan diduga sebagai tempat terjadinya aktivitas tersebut. Kombinasi bubungan dan retakan yang dipenuhi magma mengarah ke cekungan diperkirakan telah menghasilkan retakan yang dipenuhi magma aktif dan membuat adanya 'punuk'. Ilmuwan menduga guncangan ini cukup dahsyat dan bisa sampai ke inti Bulan.

"Ada asumsi bahwa Bulan sudah lama mati, tetapi kami terus menemukan bahwa itu belum pasti," kata ahli geologi planet Peter Schultz dari Brown University.

Baca Juga :

Dari makalah tersebut dijelaskan Bulan masih memiliki kemungkinan berderit dan retak bahkan untuk potensi di masa sekarang -- mengingat masih ditemukan bukit-bukit yang ada di Bulan.

Sementara itu, gerakan tektonik bukanlah konsep baru. Seismometer yang dibuat oleh astronaut Apollo beberapa dekade lalu menunjukkan gempa Bulan yang lemah jauh di bawah permukaan.

"Bulan memiliki kenangan yang panjang. Apa yang kami lihat di permukaan hari ini adalah kesaksian akan sejarahnya dan rahasia yang masih tersimpan," tutup Schultz. Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Wednesday, May 6, 2020

Jangan Lupa, Malam Ini Ada Hujan Meteor Eta Aquarids

Hujan meteor Lyrid

PT Rifan Financindo - Peristiwa alam pertama di bulan Mei akan terjadi pada malam ini. Adalah hujan meteor Eta Aquarids akan memanjakan mata kalian.

Adapun hujan meteor Eta Aquarids yang berlangsung malam ini, merupakan fase puncaknya.

"Iya. Tahun ini, hujan meteor Eta Aquarids diperkirakan berpuncak malam ini," ujar Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto saat dihubungi detikINET, Selasa (5/5/2020).

Baca Juga :


Namun sayangnya, kata Rhorom, fase puncak hujan meteor edisi kali ini terbilang landai. Menurutnya ini bisa berlangsung beberapa hari dengan intensitas tak jauh beda.

"Puncaknya landai. Bukan seperti puncak Merapi, tapi lebih seperti puncak Tangkuban Parahu," ungkap Rhorom mengibaratkan.

Kendati begitu, ini bisa jadi pertunjukan alam bagi kalian yang ingin melihat dari istimewanya alam semesta. Terutama bagi yang melewati hujan meteor Lyrids pada bulan kemarin.

LAPAN menyebutkan sebelumnya, Eta Aquarids bisa menghasilkan hingga 60 meteor per jam saat kondisi puncak tersebut diperkirakan terjadi 6-7 Mei.

Lembaga pemerintahan non kementerian ini menuturkan, sebagian besar aktivitas hujan meteor itu terlihat di belahan Bumi selatan. Sedangkan, belahan Bumi utara angka ini dapat mencapai sekitar 30 meteor per jamnya.

Hujan meteor Eta Aquarids berasal dari partikel debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley, yang telah dikenal dan diamati sejak zaman kuno.

Sayangnya saat kalian menyaksikan Eta Aquarids bisa terganggu karena di saat bersamaan ada bulan purnama. Akan tetapi, bila kalian sabar dan jeli, bukan tak mungkin bisa menikmati suguhan kejadian alam ini.

Selain tempat yang gelap, waktu yang tepat mengamati Eta Aquarids itu setelah lewat tengah malam. Radiant hujan meteor ini adalah konstelasi Aquarius, tetapi dapat muncul di mana saja di langit. PT Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Monday, May 4, 2020

318 Gigaton Es di Antartika dan Greenland Mencair Tiap Tahun

Antartika ramai turis

Rifanfinancindo - Suhu air laut yang menghangat akibat pemanasan global mengakibatkan hilangnya es di kedua kutub dalam jumlah yang fantastis. Bahkan menurut data NASA, Antartika dan Greenland kehilangan ratusan gigaton es setiap tahunnya.

Dikutip detikINET dari CNN, Selasa (5/5/2020) studi terbaru dari NASA yang diterbitkan di jurnal Science menunjukkan bahwa 118 gigaton es di Antartika dan 200 gigaton es di Greenland mencair tiap tahunnya.

Lelehan ini bisa mengisi 127 juta kolam renang standar Olimpiade. Selain itu menurut NASA jumlah es yang meleleh juga bisa menyelimuti Central Park di New York dengan es setebal 1.000 kaki, lebih tinggi dari menara Chrysler.


Baca Juga :
Data ini diambil NASA dari satelit Ice, Cloud, and land Elevation Satellite 2 (ICESat-2) yang diluncurkan tahun 2018. Data ini kemudian dibandingkan dengan pengukuran yang diambil oleh ICESat original dari 2003-2009 untuk melihat perubahan lapisan es yang kompleks.

"Jika kalian mengamati gletser atau lapisan es selama satu bulan, atau satu tahun, kalian tidak akan mempelajari banyak tentang apa pengaruh dari iklim," kata ahli glasiologi dari University of Washington Ben Smith.

"Kini kita memiliki rentang 16 tahun antara ICESat dan ICESat-2 dan bisa lebih yakin bahwa perubahan yang kita lihat di es terkait dengan perubahan jangka panjang di iklim," sambungnya.

Hilangnya es di Antartika dan Greenland menyebabkan naiknya permukaan air laut hingga 1,2 cm antara 2003 dan 2019, kurang dari sepertiga jumlah kenaikan permukaan air laut keseluruhan yang diamati di perairan di seluruh dunia.

Jumlah es di Antartika Timur sebenarnya bertambah, tapi pertumbuhan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan jumlah es yang hilang secara keseluruhan di bagian lainnya.

Studi NASA ini juga meneliti lempengan es yang mengapung di ujung gletser. Peneliti menemukan massa sejumlah lempengan es di Antartika Barat semakin berkurang.

NASA mengatakan es yang mencair dari lempengan es tidak menambah kenaikan permukaan air laut. Tapi lempengan es menyediakan stabilitas untuk gletser dan lapisan es di belakangnya.

"Lempengan es menopang lapisan es. Jika kalian mengambil lempengan es, atau bahkan mengencerkannya, kalian mengurangi kekuatan penopang itu, sehingga es dapat mengalir lebih cepat," kata ahli glasiologi di University of California San Diego. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik

Sunday, May 3, 2020

Hujan Meteor dan Bulan Purnama Sapa Bulan Mei, Catat Tanggalnya

hujan meteor 2019

Rifan Financindo - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membagikan kalender astronomi yang akan terjadi pada bulan Mei ini. Ada tiga peristiwa yang terjadi di bulan ini, yaitu Eta Aquarids, Bulan Purnama, dan Bulan Baru.

LAPAN menyebutkan bahwa bagi kalian yang ingin menyaksikan fenomena alam tersebut, maka dapat mengamatinya dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantuan, seperti teleskop, di tempat terbuka dan gelap.

"Dengan catatan, harus sabar menunggu, kondisi langit sedang cerah dan kalo bisa sih tempatnya yang belum parah polusi cahayanya ya," kata LAPAN.

Baca Juga :

Berikut tanggal peristiwa peristiwa alam yang terjadi di bulan Mei, sebagaimana dilansir dari akun Instagram LAPAN, Senin (4/5/2020):

Eta Aquarids
Bila kalian yang tidak sempat melihat hujan meteor lyrids saat bulan April kemarin, maka Eta Aquarids bisa jadi solusinya. Ya, hujan meteor yang bisa menghasilkan hingga 60 meteor per jam saat kondisi puncak tersebut diperkirakan terjadi 6-7 Mei.

LAPAN mengatakan sebagian besar aktivitas hujan meteor itu terlihat di belahan Bumi selatan. Sedangkan, belahan Bumi utara angka ini dapat mencapai sekitar 30 meteor per jamnya.

Hujan meteor Eta Aquarids berasal dari partikel debu yang ditinggalkan oleh komet Halley, yang telah dikenal dan diamati sejak zaman kuno.

Sayangnya saat kalian menyaksikan Eta Aquarids bisa terganggu karena di saat bersamaan ada bulan Purnama. Akan tetapi, bila kalian sabar dan jeli, bukan tak mungkin bisa menikmati suguhan kejadian alam ini.

Selain tempat yang gelap, waktu yang tepat mengamati Eta Aquarids itu setelah tengah malam. Radiant hujan meteor ini adalah konstelasi Aquarius, tetapi dapat muncul di mana saja di langit.

Bulan Purnama
LAPAN menuturkan bulan akan terletak di belakang Bumi bila dilihat dari Matahari dan wajahnya akan sepenuhnya diterangi cahaya Matahari.

Fase tersebut terjadi pada pukul 17.45 WIB pada 7 Mei 2020. Saat bulan purnama terjadi, jarak Bumi dan Bulan adalah 361.184 atau sekitar 0,967 kali jarak rata-rata Bumi dan Bulan. Sedangkan, ukuran diameter mencapai 33.08 menit busur.

LAPAN menjelaskan bulan purnama ini dikenal oleh suku-suku asli Amerika awal sebagai bulan bunga penuh karena ini adalah waktu tahun ketika bunga musim semi muncul dalam jumlah besar. Adapun, bulan ini juga dikenal sebagai bulan tanam jagung penuh dan bulan susu.

Dengan bulan purnama ini, itu artinya empat supermoon yang berlangsung pada tahun 2020 sudah lengkap. Sebagai catatan, bulan purnama kali ini akan berada pada posisi terdekatnya ke Bumi dan mungkin terlihat sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya.

Bulan Baru
Pada tanggal 22 Mei, Bulan akan terletak di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak akan terlihat di langit malam. Fase tersebut terjadi pada pukul 00.39 UTC.

Menurut LAPAN, ini adalah waktu terbaik dalam mengamati benda-benda redup, misalnya mengamati galaksi dan gugusan bintang karena tidak ada cahaya Bulan yang mengganggu. Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Wednesday, April 29, 2020

Syukurlah, Lubang Ozon Terbesar di Kutub Utara Menutup

lubang ozon di arktik

PT Rifan Financindo - Sebuah fenomena aneh terjadi di kutub utara (Arktik) pada musim semi ini ketika lubang berukuran raksasa muncul di lapisan ozon. Kini satelit yang melacak fenomena tersebut menemukan lubang tersebut telah menutup dengan sendirinya.

Lapisan ozon bekerja sebagai tabir surya raksasa untuk Bumi dan melindungi kehidupan dari radiasi ultraviolet yang berbahaya. Lubang ozon yang paling dikenal adalah yang terjadi di Antartika, sehingga lubang ozon di Arktik ini dianggap sebagai keanehan.

Dikutip detikINET dari CNN, Rabu (29/4/2020) tim ilmuwan dari Copernicus Atmospheric Monitoring Services mengumumkan temuan ini pada akhir pekan lalu. Mereka mengatakan lubang ini muncul bukan disebabkan karena kegiatan manusia tapi karena polar vortex di Arctic yang sangat kuat.
Baca Juga :
Karena tidak disebabkan oleh manusia, menutupnya lubang ini juga kemungkinan tidak disebabkan oleh menurunnya polusi akibat pandemi virus Corona.

"COVID19 dan lockdown yang terkait kemungkinan tidak ada hubungannya dengan ini," kata tim CAMS ketika lewat akun Twitter-nya ketika mendapat pertanyaan dari netizen.

"Fenomena ini didorong oleh polar vortex yang kuat dan berdurasi panjang, dan tidak terkait dengan perubahan kualitas udara," sambungnya.

Polar vortex atau pusaran kutub merupakan area yang memiliki tekanan rendah dan udara dingin yang mengelilingi kedua kutub di Bumi. Polar vortex di Arktik biasanya lebih lemah karena ada daratan di dekatnya dan pegunungan yang bisa mengganggu cuaca.

Saat pertama kali diumumkan, lubang ozon di Arktik merupakan yang terbesar dalam catatan sejarah. Sebagian ozon yang biasanya ditemukan di ketinggian 17 km di stratosfer menghilang dan ukurannya hampir sebesar Greenland.

Terakhir kali lubang ozon ditemukan di Arktik terjadi pada tahun 2011 lalu, tapi ukurannya tidak sebesar lubang ozon yang terjadi di tahun 2020.

Ketika lubang ozon di Arktik telah menutup, masih ada lubang ozon di Antartika yang harus dikhawatirkan. Tapi setidaknya ada berita bagus, pada tahun 2019 lubang ozon tersebut merupakan yang terkecil sejak pertama kali ditemukan. PT Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Ini Bukti Kalau Antartika Dulunya Hutan

Antartika 
 
Rifanfinancindo  - Saat pakar paleontologi asal Swedish Museum of Natural History, Thomas Mors, meneliti fosil mini berusia 40 juta tahun yang digali di Seymour Island dekat ujung semenanjung Antartika, ia terkejut.

Fosil itu rupanya adalah bagian panggul dan kepala seekor katak. Jenisnya Katak Bertopi atau Helmeted Frog, masih berhubungan dengan katak sejenis yang berasal dari Chile. Panjang tubuhnya sekitar 4 cm.

"Ini adalah penemuan yang sama sekali tidak terduga di bawah mikroskop. Saya langsung menyadari bahwa saya telah menemukan katak pertama Antartika," ujar Mors, dikutip detikINET dari Reuters.

Baca Juga :

Katak tersebut juga merupakan amfibi pertama ditemukan di Antartika yang masih ada keturunannya di zaman modern dan selain itu, mengungkap kondisi mengejutkan masa silam. Disimpulkan 6 juta tahun sebelum jadi benua es, Antartika berupa hutan dan sungai, penuh kehidupan.

"Hal ini memberitahu kita bahwa seluruh ekosistem bisa lenyap oleh perubahan iklim global dan mungkin itu berlangsung cepat," papar Mors.

Diperkirakan saat itu, iklim di Antartika serupa dengan hutan hujan di Chile, amat basah di mana temperatur pada bulan terhangat rata-rata 14 derajat Celcius.

Pada saat katak tersebut masih eksis dan memakan serangga, lapisan es mulai terbentuk. "Karena ada bukti gletser sudah ada 40 juta tahun lalu, menarik bahwa iklimnya ternyata masih cocok untuk vertebrata darat berdarah dingin ini," imbuh Mors.

Sebelumnya, fosil amfibi yang ditemukan di benua itu sudah punah pada masa sekarang. Adapun Katak Bertopi sampai saat ini masih cukup banyak jumlahnya. Rifanfinancindo.

Sumber : detik

Monday, April 27, 2020

Peta Geologi Ungkap Kenapa Bulan Terlihat Bopeng

Bulan purnama
Rifan Financindo - United States Geological Survey (USGS) berhasil menciptakan peta Bulan paling paling komperhensif, di mana itu akan memudahkan misi manusia hingga eksplorasi satelit alami Bumi itu di masa mendatang.

"Untuk pertama kalinya, seluruh permukaan Bulan telah sepenuhnya dipetakan dan diklasifikasikan secara seragam oleh para ilmuwan dari USGS Astrogeology Science Center bekerja sama dengan NASA dan Lunar Planetary Institute," ujar USGS dalam pernyataannya, Senin (27/4/2020).

Pemetaan Bulan ini merupakan hasil penggabungan informasi data dari enam peta regional era Apollo dengan informasi terbaru dari misi satelit terbaru di Bulan.

Baca Juga :

United States Geological Survey (USGS) berhasil menciptakan peta Bulan paling paling komperhensif.United States Geological Survey (USGS) berhasil menciptakan peta Bulan paling paling komperhensif. Foto: USGS

Penggabungan data lama dengan terbaru itu memungkinkan USGS mengembangkan rincian permukaan Bulan, seperti lapisan batu. Ini juga sekaligus jawaban dari persoalan penelitian sebelumnya, di mana nama, deskripsi, dan usia batuan terkadang tidak konsisten.

Hasil dari penggabungan data yang dinamakan USGS dengan "Unified Geological Map of the Moon" ini berfungsi sebagai cetak biru definitif geologi permukaan Bulan untuk misi manusia di masa depan.

Dari pemetaan ini mengungkap jenis kawah, dataran yang ada di Bulan. Begitu juga menjelaskan mengapa Bulan ada bopeng bercorak gelap saat kita melihatnya dari Bumi.

Selain itu juga, pemetaan Bulan ini pun dikatakan akan menyumbang kontribusi bagi komunitas ilmuwan internasional, pendidik, dan masyarakat luas.

"Ini sangat luar biasa melihat USGS menciptakan sumber daya yang dapat membantu NASA dengan perencanaan mereka untuk misi di masa depan," ucap Menurut Direktur USGS dan mantan astronaut NASA Jim Reilly.

Adapun peta geologi Bulan hasil rancangan USGS tersebut memiliki skala 1:5.000.000.

"Peta ini adalah puncak dari proyek berdurasi puluhan tahun. Ini memberikan informasi penting untuk studi ilmiah baru dengan menghubungkan eksplorasi di Bulan dengan seluruh permukaannya," pungkas Ahli Geologi dan Penulis Utama USGS Corey Fortezzo. Rifan Financindo.


Sumber : Detik