Tuesday, June 9, 2020

Ramalan Suram Masa Depan Bumi dan Ambisi Pindah Planet

Foto Bumi Bulat

Rifanfinancindo - Bumi merupakan planet yang sempurna untuk kehidupan. Tapi ada beberapa tokoh terkenal yang meramalkan masa depan suram planet ini sehingga manusia harus berpindah ke planet lain atau ke antariksa. Berikut di antaranya:

1. Stephen Hawking
Mendiang Stephen Hawking, ilmuwan terkenal Inggris, termasuk getol memperingatkan bahwa Bumi makin tidak kondusif. Ia pernah mengatakan manusia harus meninggalkan planet Bumi dalam 100 tahun ke depan agar selamat, ke planet lain yang memungkinkan untuk dihuni.

"Saya sangat yakin bahwa kita harus mulai mencari planet alternatif untuk habitat yang memungkinkan. Kita sudah kehilangan banyak ruang di bumi dan harus melakukan terobosan teknologi yang mencegah kita hidup di mana saja di alam semesta ini," katanya.
 
Baca Juga :
Sosok yang kisahnya diangkat menjadi sebuah film berjudul The Theory of Everything ini berpendapat bahwa Bumi telah kehabisan waktu.

"Seluruh manusia harus meninggalkan planet ini untuk selamat dari terjangan perubahan iklim, penyakit epidemik, populasi yang membludak, hingga jatuhnya asteroid," katanya.

Pernyataan tersebut merujuk pemanasan global berpotensi meningkatkan suhu Bumi hingga dapat mencairkan pulau es seperti Greenland. Lalu, populasi Bumi sudah tembus 7,3 Miliar, dengan penyakit-penyakit yang dapat mengancam seluruh penduduk.

Para peneliti menurut dia harus memulai rencana untuk mencari rumah berikutnya bagi manusia mengingat kerusakan yang sudah dilakukan manusia kepada Bumi.

"Saya percaya bahwa kita sudah sampai pada tahap di mana kita tidak bisa kembali lagi. Bumi sudah terlalu kecil bagi seluruh manusia. Populasi global yang terus meningkat menjadi alarm bahwa kita sedang mengarah pada kehancuran kita sendiri," ujarnya.

Stephen Hawking mengatakan bahwa NASA, SpaceX milik Elon Musk, hingga Blue Origins kepunyaan Jeff Bezos menjadi tiga terdepan dalam menginisiasi era baru penjelajahan antariksa.

2. Elon Musk
Pindah ke planet Mars bukanlah impian yang jauh di awang-awang. Setidaknya demikian pandangan dari Elon Musk, triliuner pemilik perusahaan kapal luar angkasa SpaceX. Ia sangat yakin kolonisasi Mars bisa dilakukan dalam waktu yang tak begitu lama.

"Aku ingin membuat Mars terasa mungkin (dihuni-red), sesuatu yang bisa kita lakukan dalam jangka waktu hidup kita. Sungguh ada jalan orang-orang bisa pergi ke sana jika mereka menginginkannya," sebut Elon dalam publikasinya di jurnal New Space beberapa waktu silam.

Menurut Elon, manusia pada akhirnya akan menghadapi peristiwa yang berujung kepunahan. Sehingga alternatifnya adalah menghuni planet-planet di tata surya yang memungkinkan.

"Aku memang tidak bisa meramal kiamat namun berdasarkan sejarah, akan ada event semacam itu," tulis salah satu orang terkaya dunia tersebut.

Dan sejauh ini hanya Mars yang sepertinya mungkin ditinggali karena sumber daya alamnya banyak serta ada beberapa kemiripan dengan planet bumi. Tapi memang banyak sekali halangan, misalnya belum ada pesawat luar angkasa berpenumpang manusia sampai di sana.

Kalaupun ada, biayanya diprediksi sangat mahal. Tapi bukan Elon namanya kalau tidak optimistis. Ia yakin semua tantangan itu ada solusinya sehingga manusia bisa membangun perkotaan di planet merah.

"Jika semuanya berjalan sangat lancar, mungkin waktunya 10 tahun dari sekarang, tapi aku tidak mengatakan benar-benar akan terjadi saat itu. Ada risiko begitu besar dan biaya tinggi," paparnya.

Setelah SpaceX sukses meluncurkan astronaut NASA memakai kapsul Crew Dragon ke International Space Station, Elon Musk sang pemilik beralih fokus ke proyek ambisius mempersiapkan pesawat Starship untuk menuju ke Mars. "Tolong anggaplah prioritas top SpaceX adalah Starship," tulis Musk.

3. Jeff Bezos
Orang terkaya dunia, Jeff Bezos, sangat berambisi membangun pemukiman manusia di luar angkasa. Bahkan pendiri Amazon itu ingin 1 triliun manusia menjadi penduduk koloni antariksa tersebut, sebagian di antaranya orang genius.

"Sistem tata surya bisa mendukung 1 triliun manusia dan kemudian kita akan memiliki 1.000 Mozart dan 1.000 Einstein. Pikirkan bagaimana menakjubkan dan dinamisnya peradaban ini," kata Bezos di New York beberapa waktu silam.

"Tapi jika kita ingin punya itu, kita harus keluar ke sistem tata surya. Kalian harus menangkap lebih banyak sinar matahari dan kita akan menggunakan semua sumber daya yang ada di angkasa dalam hal mineral dan tak hanya energi. Sangat bisa dilakukan, tapi kita harus mulai," tandasnya.

Bezos memiliki perusahaan antariksa Blue Origin yang ingin membawa turis terbang ke angkasa. Tapi bukan tak mungkin Blue Origin akan melakukan lebih jauh soal penjelajahan antariksa.

"Salah satu langkah pertama adalah kita perlu membuat wahana penerbangan berbiaya rendah, mudah diperbaiki, dan dipakai lagi. Itu adalah langkah mahal. Itulah mengapa Blue Origin fokus ke situ. Aku sungguh ingin peradaban dan kehidupan dinamis bagi anak cucu kita," tambah dia.

Pria berkepala pelontos ini mengaku mulai tertarik dengan antariksa semenjak pendaratan manusia di Bulan pada 50 tahun silam. Lebih jauh, mengembangkan teknologi antariksa adalah penting bagi manusia agar punya masa depan yang panjang.

"Kita manusia harus pergi ke angkasa jika ingin terus punya peradaban yang berkembang. Kita telah menjadi besar sebagai populasi, sebagai spesies dan planet ini relatif kecil. Kita melihat hal-hal semacam perubahan iklim, polusi, dan industri berat. Kita dalam proses menghancurkan planet ini," tandasnya.

Maka ia berambisi di masa depan, banyak proses produksi dilakukan di angkasa dan baru dikirim ke Bumi. "Akan jauh lebih murah dan sederhana membuat hal kompleks seperti microproseor di angkasa dan mengirimkannya kembali ke Bumi, sehingga kita tak punya lagi pabrik-pabrik besar dan industri yang menghasilkan polusi," paparnya. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik

Bumi Terima Sinyal Misterius dari Luar Angkasa Tiap 157 Hari

Planet Bumi

Rifan Financindo - Semburan sinyal radio misterius yang datang dari luar angkasa jauh, mengulang sebuah pola secara terus menerus. Sinyal fast radio burst (FRB) ini diterima Bumi setiap 157 hari sekali.

Dikutip dari Space, para peneliti yang mempelajari semburan sinyal radio ini, menemukan bahwa satu emisi tertentu tampak terjadi secara berulang dalam suatu siklus.

Mereka berharap, temuan mengenai pola tersebut bisa digunakan untuk memahami lebih banyak tentang ledakan sinyal misterius tersebut.




Baca Juga :
Sejauh ini, para peneliti tidak dapat menemukan bagaimana semburan sinyal itu dapat tercipta. Satu-satunya kepastian yang didapat adalah, ledakan singkat namun sangat kuat itu muncul dari sejumlah wilayah alam semesta yang tidak diketahui secara ekstrem.

Semburan sinyal ini datang dalam waktu sekitar 90 hari, yang kemudian diikuti oleh periode diam selama 67 hari. Pola tersebut kemudian berulang, membentuk periode 157 hari yang bisa dilacak selama beberapa tahun.

Pola panjang itu bisa menunjukkan bahwa ledakan tersebut terkait dengan gerakan yang berputar-putar, orbital dari bintang masif, dan bintang neutron atau lubang hitam.

"Ini adalah temuan yang menarik, karena hanya sistem kedua di mana kami percaya, kami melihat modulasi ini dalam aktivitas burst," kata Kaustubh Rajwade dari The University of Manchester yang memimpin penelitian ini.

"Mendeteksi periodisitas, memberikan informasi penting tentang asal usul semburan dan siklus aktivitas yang dapat membantah bintang neutron pendahulunya," sambungnya.

Semburan sinyal radio cepat pertama kali ditemukan pada 2007. Awalnya, fenomena ini dianggap sebagai peristiwa sesaat. Namun kemudian, para ilmuwan menemukan pada 2016 bahwa sinyal FRB 121102 sebenarnya berulang.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan kemudian mempelajari sumber FRB menggunakan teleskop di Jodrell Bank yang memungkinkan pemantauan rutin selama periode yang panjang. Lewat teleskop ini, terungkap bahwa ledakan itu datang secara berulang ketika dilihat dalam waktu lama.

"Hasil ini bergantung pada pemantauan rutin yang mungkin dilakukan dengan Lovell Telescope, dan non-deteksi sama pentingnya dengan pendeteksian," kata Benjamin Stappers yang memimpin proyek MeerTRAP untuk berburu FRB menggunakan teleskop MeerKAT di Afrika Selatan.

FRB 121102 adalah sumber FRB kedua yang diketahui mengulangi pola sedemikian rupa. Sinyal pertama FRB, tercata melakukannya pada jadwal yang lebih ketat, yakni dengan siklus yang hanya berlangsung 16 hari. Rifan Financindo.


Sumber : Detik

Sunday, June 7, 2020

Studi: Mars Dulu Pernah Punya Cincin Serupa Saturnus

Planet Mars

PT Rifan Financindo - Rupanya planet bercincin yang ada di Tata Surya tak hanya Saturnus, Mars juga pernah memiliki cincin.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan SETI Institute di Mountain View, California, AS, menemukan fakta menarik bahwa Mars dikelilingi cincin, yang mana itu diketahui setelah mengamati orbit dua Bulan miliknya, yaitu Phobos dan Deimos.

Satelit alami Mars itu memiliki orbit yang berbeda satu sama lain. Apabila Deimos mengorbit lebih jauh dan cenderung miring dua derajat dari bidang ekuator Mars, sedangkan Phobos lebih dekat dari Mars orbitannya yang mengikuti garis khatulistiwa di Planet Merah.
Baca Juga :


Orbit miring inilah diyakini peneliti dan menambah bukti terhadap gagasan bahwa Phobos pernah jadi cincin raksasa, yang mana kini menyatu menjadi bentuk seperti sekarang kita lihat.

Pada 2017, tim peneliti bahwa bulan-bulan Mars melalui siklusnya terkikis menjadi tipis cincin, karena gravitasi planet ini kemudian membentuk bulan lagi.

Di setiap siklusnya, bulan yang terbentuk dari cincin itu lebih kecil ukurannya dari sebelumnya, yang mana potongan-potongan cincin jatuh dari orbit dan melayang ke luar angkasa.

Para ilmuwan SETI Institute mengungkapkan dari hasil penelitian kalau bulan Mars dahulu kala punya ukuran 20 kali lebih besar dari Phobos. Phobos sendiri memiliki diameter 27 kilometer.

Dengan siklus bulan menjadi cincin ini memberikan pencerahan bagi peneliti kalau Deimos dulunya merupakan cincin yang terbentuk miliaran tahun lalu.

Studi terkait bahwa Mars pernah memiliki cincin seperti Saturnus ini, peneliti menerbitkannya di jurnal Nature Geoscience. PT Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Thursday, June 4, 2020

Ilmuwan Temukan Nenek Moyang Parasit

parasit tertua 
 
Rifanfinancindo - Para peneliti dari Northwest University, China, menemukan parasit yang sejauh ini diketahui merupakan parasit generasi paling awal. Parasit tersebut masih menempel pada inangnya dan diperkirakan berusia sekitar 510 juta tahun lalu.

Tim ilmuwan ini termasuk beruntung karena kecil kemungkinan parasit terfosilkan. Pasalnya, peluang mendapatkan fosil cukup rendah. Makhluk hidup harus mati di tempat yang 'tepat', dikuburkan sebelum membusuk, dan kontak dengan jenis kimiawi yang tepat di bawah tanah yang akan membentuk batu fosil.

Temuan ini ada di Yunnan, China, tepatnya di wilayah yang lapisan batuan sedimen bernama Wulongqing Formation-nya penuh dengan fosil kecil brachiopoda dari spesies bernama Neobolus wulongqingensis.

Baca Juga :

Menengok periode zaman Kambrium, tak lama setelah kehidupan hewan multisel berkembang menjadi varietas yang luar biasa, makhluk-makhluk ini hidup di dasar laut.

Tim yang dipimpin Zhifei Zhang dari Northwest University, China, menemukan bahwa Neobolus wulongqingensis tidak sendirian hidup di batu-batu yang banyak dihiasi makhluk-makhluk berbentuk tabung berwarna keputihan di bagian luar kerang mereka.

Tidak ada yang benar-benar terpelihara dari barang-barang ini di luar bentuknya yang seperti tabung. Tetapi pola yang konsisten pada brachiopoda menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk itu sendiri, bukan 'jejak fosil' seperti lubang atau sesuatu yang murni berasal dari proses geologis.

Dikutip dari Ars Technica, makhluk-makhluk ini, seperti dijelaskan tim ilmuwan, meregang hingga ke luar cangkang brachiopod, memanjang sedikit melewati tepi cangkang.
parasit tertuaSalah satu contoh brachiopod dengan makhluk berbentuk tabung yang menempel di cangkangnya.

Bagi para peneliti, makhluk ini benar-benar tampak seperti parasit. Namun identifikasi parasit yang jelas dalam catatan fosil saat ini sudah sangat jarang.

"Bahkan, jika kedua organisme tersebut dipertahankan dengan cukup baik untuk ditemukan bersama-sama, peneliti harus membuktikan hubungan keduanya adalah inang dan parasit," kata Zhang.

Ini disebut zero-sum relationship, yaitu satu organisme mengekstrak makanan untuk merugikan yang lain. Namun ada juga hubungan timbal balik (keduanya menguntungkan) dan komensalis (satu bermanfaat dan lainnya tidak peduli) yang bisa terlihat sama ketika menjadi fosil.

Pada temuan ini, makhluk tabung parasit tertua teridentifikasi dalam catatan fosil. Keberadaan mereka tidak benar-benar mengejutkan, karena penelitian lain telah menemukan hal-hal terkait seperti kerusakan cangkang sebagai ciri khas dari parasit dalam fosil lain di zaman ini.

Studi yang meneliti cabang-cabang kehidupan juga memperkirakan bahwa parasit pasti memiliki akar evolusioner di zaman Kambrium. Jadi, temuan ini dinilai sungguh luar biasa.

Para peneliti mencatat bahwa parasitisme dianggap sebagai kekuatan evolusi yang kuat dan bahkan mungkin merupakan pendorong penting dalam kebangkitan reproduksi seksual.

Dari sudut pandang tersebut, sangat menarik mengulik parasitisme beraksi selama periode yang sangat penting dalam sejarah evolusi ini. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik

Wednesday, June 3, 2020

Muncul Bulan Bercincin, Ini Alasan Ilmiahnya

Bulan Bercincin Terlihat di langit Indonesia, Ini Artinya 
 
Rifan Financindo - Media sosial diramaikan dengan keberadaan foto-foto yang menunjukkan Bulan dilingkari dengan cahaya atau Bulan bercincin pada malam sebelum bulan perigee. Adakah kaitannya dengan kejadian Bulan perigee yang terjadi pada hari ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Ahli Peneliti Observatorium Bosscha Yanty Yulianty mengatakan, fenomena Bulan dilingkari dengan cahaya disebut juga dengan fenomena "halo". Dia memastikan, secara ilmiah fenomena halo Bulan tidak ada kaitannya dengan Bulan perigee.

"Tidak ada (kaitannya dengan Bulan perigee)," ujarnya, Rabu (3/6/2020).

Baca Juga :

Dia menjelaskan, fenomena halo Bulan terjadi ketika cahaya satelit alami Bumi itu mengalami refleksi dan pembiasan oleh kristal es berbentuk heksagon yang terbentuk di lapisan awan pada ketinggian tertentu, biasanya di ketinggian awan cirrus biasanya.

Kemudian, pembiasan oleh kristal es dengan sudut bias tertentu menghasilkan cahaya bias yang melingkar di sekeliling sumber cahaya.

"Fenomena ini cukup sering terjadi dan bisa terjadi pada sumber cahaya lain, seperti lampu," tambahnya.

Tidak hanya terjadi pada bulan saja, fenomena halo juga memungkinkan terjadi pada matahari. Yanty mengungkapkan, proses pembentukan halo Bulan sama seperti pada proses pembiasan cahaya yang melewati medium tertentu dengan indeks bias yang berbeda.

"Dalam hal ini mediumnya kristal es, sinar cahaya Bulan mengalami pembelokan. Hasil pembiasannya yang kita lihat sebagai halo," ujarnya.

Dia juga menyebut fenomena ini berbeda dengan fenomena perigee yang bisa diprediksi. Fenomena halo bulan lebih banyak dipengaruhi faktor cuaca atau meteorologis.

"Faktor cuaca atau meteorologis yang kita tahu sangat dinamis. Jadi hanya tinggal menunggu the right moment in a perfect condition," pungkasnya. Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Tuesday, June 2, 2020

Penampakan Ledakan Besar di Matahari, Pertanda Apa?



Matahari 
PT Rifan Financindo - Matahari kita adalah obyek masif yang dinamis dan terus berubah. Solar Dynamics Observatory milik NASA baru saja merekam solar flare atau suar Matahari, yaitu ledakan terbesar yang terjadi di bintang tersebut sejak tahun 2017

Padahal baru-baru ini, Matahari disebut memasuki fase kurang aktif atau solar minimum yang dijuluki lockdown. Selama 100 hari di tahun 2020, Matahari tidak menampakkan bintik Matahari apapun. Kini dengan terjadinya solar flare itu, ada kemungkinan Matahari bakal sangat aktif kembali.

"Setelah beberapa bulan aktivitas Matahari yang kecil, ilmuwan mengamati klaster baru ini untuk melihat apakah akan berkembang atau lenyap. Bintik Matahari mungkin saja akan menjadi pertanda dari Matahari meningkat dan lebih aktif," sebut NASA.

Baca Juga :

Untuk mengetahui hal itu dengan pasti, masih dibutuhkan waktu beberapa bulan lagi, tepatnya sekitar setengah tahun. Solar flare sendiri merupakan semburan radiasi yang berasal dari bintik Matahari.

Ilmuwan mengkategorikan solar flare dalam tiga jenis, C, M, dan X di mana C adalah terkuat dan X terlemah. Ledakan Matahari kali ini kategorinya adalah M yang berarti bukan ledakan monster dan tidak berdampak pada Bumi.

Ledakan Matahari dalam skala sangat besar seperti diketahui bisa mengganggu perangkat telekomunikasi seperti satelit ataupun sistem kelistrikan di planet ini.

Saat ini, NASA ingin memastikan apakah Solar Minimum di Matahari benar-benar akan berakhir. "Ilmuwan membutuhkan data jangka panjang untuk memberi gambaran tren keseluruhan Matahari dalam daurnya," sebut NASA.

"Ini merupakan ledakan Matahari kelas M yang pertama terjadi sejak Oktober 2017 dan ilmuwan akan mengamati untuk menyaksikan apakah benar memang Matahari mulai terbangun," pungkas NASA. PT Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Teleskop Raksasa China Mulai Cari Alien di Bulan September

Teleskop raksasa Cina mulai fase pengujian

Rifanfinancindo - China tidak lama lagi akan menyumbangkan kontribusi yang signifikan dalam proses pencarian kehidupan ekstraterestrial. Teleskop radio buatan Negeri Tirai Bambu akan mulai mencari tanda-tanda alien di bulan September 2020.

Dikutip detikINET dari Engadget, Selasa (2/6/2020) teleskop tersebut adalah Five-hundred-meter Aperture Spherical Teleskop (FAST) dan merupakan teleskop radio single aperture terbesar di dunia.

FAST sebenarnya sudah beroperasi sejak bulan Januari untuk aktivitas ilmiah yang bersifat umum. Saat ini teleskop tersebut sedang menerima upgrade yang bisa mengurangi gangguan sinyal dan meningkatkan kapasitas riset.


Baca Juga :
Pada bulan Maret, ilmuwan pencari kehidupan ekstraterrestrial (SETI) menerbitkan makalah penelitian yang menyimpulkan hasil observasi awal FAST. Makalah tersebut meneliti bagaimana meningkatkan kapasitas teleskop untuk menghilangkan gangguan frekuensi radio dari Bumi.

Mereka juga mengidentifikasi sinyal narrowband menarik yang bisa menjadi kandidat sinyal kehidupan ekstraterestrial dan akan diperiksa lagi untuk melihat sinyal mana yang berasal dari kehidupan ekstraterestrial.

Pemimpin riset SETI China, Zhang Tongjie mengatakan penelitian untuk mencari kehidupan alien ini tidak akan bertabrakan dengan misi ilmiah reguler.Misi itu termasuk menemukan pulsar dan sinyal radio interstellar lainnya yang memberikan petunjuk tentang terbentuknya tata surya.

Selain itu, walau FAST sudah menemukan sinyal ekstraterestrial yang disebut di atas, Zhang mengatakan ia tidak berharap sinyal tersebut datang dari kehidupan intelijen.

Tapi jika ada alien yang menyebarkan sinyal radio, FAST bisa jadi salah satu teleskop yang menangkapnya. Teleskop raksasa ini memiliki permukaan utama yang mencapai 500 meter dan bisa mengakses area langit yang lebih luas dibanding teleskop Arecibo di Puerto Rico. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik