Tuesday, August 4, 2020

Dipolisikan, Hadi Pranoto Tanya Balik Hoaxnya Apa

Hadi Pranoto menunjukkan ramuan herbal untuk antibodi COVID-19. Ramuan itu disebut mampu tingkatkan antibodi dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Rifan Financindo -Hadi Pranoto dipolisikan karena video Youtube bersama Anji soal obat Corona dianggap hoax. Hadi membela diri.

"Yang dilaporkan ini apa? Barang herbalnya ada, orang yang diobati ada. Yang dibilang hoax ini apa?" kata Hadi saat dihubungi detikINET.

Hadi mengatakan video Youtube-nya bersama Anji bukanlah konten hoax. Pun Hadi membenarkan ada pasien di Wisma Atlet mencoba obat herbalnya supaya sembuh dari COVID-19.


Baca Juga :
"Ada beberapa yang coba terapi herbal ini di Wisma Atlet hasilnya cukup baik," kata dia.

Sebelumnya Hadi Pranoto juga mengakui obat herbalnya adalah Bio Nuswa yang diperkenalkan oleh Laskma TNI Dr Suradi AS. Menurut Hadi, dia dan Suradi memang satu tim.

"Iya memang satu tim. Saya kepala risetnya, Pak Suradi salah satu timnya. Risetnya sudah lama, bukan cuma satu item saja. Kalau didaftarkannya baru 2020," kata Hadi.

Ramuan herbal ini diketahui telah didaftarkan ke Balai POM RI serta sudah mendapat Surat Izin Edar Nomor POM TR203636031 tanggal 14 April 2020. Nama produk Bio Nuswa didaftarkan PT Saraka Mandiri Semesta dari Kabupaten Bogor. Tidak disebutkan bahwa obat ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan gejala virus corona.

Akibat video Youtube yang kontroversial itu Hadi Pranoto bersama Anji dilaporkan CEO Cyber Indonesia Muannas Alaidid. Laporan tersebut tertuang dalam Laporan Polisi LP/4538/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ. tanggal 3 Agustus 2020.

Muannas mengatakan Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan atas dugaan tindak pidana ITE dan atau menyebarkan berita bohong sebagaimana Pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 45A UU RI Nomor 19 Tahun 2016 dan atau Pasal 14 dan 15 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

"Sudah resmi dilaporkan pada malam ini jam 18.30 terlapor disebut jelas Hadi Pranoto profesor yang di-interview. Kemudian adalah pemilik akun Youtube duniamanji," kata Muannas di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (3/8). Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Monday, August 3, 2020

Rusia Bersiap Vaksinasi COVID-19 Massal Oktober 2020


1248769314

PT Rifan Financindo - Rusia dilaporkan telah menyelesaikan uji klinis untuk vaksin virus Corona yang dikembangkannya. Pihak berwenang Rusia mengatakan vaksin ini segera disetujui dan mempersiapkan kampanye vaksinasi massal.

Pejabat berwenang Rusia mengatakan, mereka berharap tanggal 10 Agustus atau lebih awal, bisa segera menyetujui vaksin yang dikembangkan oleh Gamaleya Institute yang berbasis di Moskow ini.

"Ini momen Sputnik," kata Kirill Dmitriev, kepala pendanaan Rusia yang menandai riset vaksin. Dmitriev menyamakan momen ini dengan merujuk pada kesuksesan peluncuran satelit pertama dunia buatan Uni Soviet di tahun 1957.


Baca Juga :
"Orang Amerika terkejut ketika mereka mendengar Sputnik berbunyi 'bip'. Momen tersebut sama halnya dengan vaksin ini. Rusia akan lebih dulu sampai di sana," sambungnya seperti dikutip dari CNN.

Ketika sudah disetujui, para petugas medis diutamakan melakukan vaksinasi pertama, dengan pertimbangan mereka adalah garda terdepan yang harus didahulukan dalam situasi ini.

"Kami merencanakan vaksinasi yang lebih luas pada bulan Oktober," kata Menteri Kesehatan Mikhail Murashko.

Terlepas dari masih adanya kekhawatiran tentang keamanan, keefektifan dan kecurigaan Rusia mengambil jalan pintas, setidaknya seperti dikatakan pejabat Rusia, ada 20 negara yang berusaha mendapatkan vaksin virus Corona tersebut di antaranya India, Brasil, Arab Saudi, dan sejumlah perusahaan AS.

Namun sejauh ini, Rusia belum merilis data ilmiah tentang pengujian vaksinnya. CNN pun tidak dapat memverifikasi klaim keamanan atau keefektifannya. Tak hanya itu, muncul juga kekhawatiran bahwa pengujian vaksin terhadap manusia yang dilakukan Rusia belum lengkap.

Sejumlah kritikus berpendapat, desakan pengembangan vaksin virus corona ini tak hanya karena situasi pandemi, tetapi juga karena tekanan politik dari pemerintahan Kremlin yang ingin menggambarkan Rusia sebagai kekuatan ilmiah global. PT Rifan Financindo.


Sumber : Detik

Wednesday, July 29, 2020

Rusia Bikin 3 Robot Antariksa, Cuma 1 yang Akan Terbang


robot antariksa rusia

Rifanfinancindo - Rusia sedang memproduksi beberapa robot antariksa yang dirancang untuk beroperasi di stasiun luar angkasa internasional (International Space Station/ISS). Tapi hanya satu yang nantinya akan diterbangkan ke sana.

"Kami akan membuat dua atau tiga Teledroid. Robot finalnya akan dikirim ke luar angkasa," kata CEO Android Technics Scientific Evgeny Dudorov seperti dikutip dari Sputnik News.

"Sedangkan tiruannya, yang akan tinggal di Bumi dan robot lain yang masih merupakan variannya, tetap diperlukan untuk menyempurnakan teknologi," sambungnya.


Baca Juga :
Dudorov tidak memungkiri jika salah satu tiruan robot nantinya akan dihancurkan begitu saja setelah melalui beberapa tahapan pengujian.

Pada Februari lalu, Rusia melaporkan bahwa tahap desain konseptual dan teknik robot telah rampung. Robot ini dijadwalkan akan meluncur ke ISS tahun 2024.

Robot luar angkasa ini akan ditempatkan pada manipulator yang akan membawanya di antara modul-modul ISS. Proyek Teledroid ini bekerja menciptakan robot antropomorfik tanpa kaki untuk bekerja di permukaan ISS.

Sebelumnya, Rusia sudah mengirimkan sebuah robot humanoid bernama Fedor untuk misi selama 10 hari ke ISS. Misi tersebut telah rampung dijalankan dan Rusia mencapai kesimpulan bahwa robot tersebut tidak dapat menggantikan peran kosmonot (sebutan astronaut Rusia) dalam misi perjalanan luar angkasa sehingga tidak akan diterbangkan lagi ke sana.

"Tidak ada lagi yang perlu dilakukannya di sana, dia sudah menyelesaikan misinya," kata Dudorov saat menyambut Fedor kembali pulang ke Bumi pada 2019.

Fedor yang merupakan singkatan dari Final Object Demonstration Research awalnya dirancang untuk membantu para astronot di stasiun luar angkasa.

"Tetapi Fedor ternyata memiliki desain yang tidak bekerja dengan baik di luar angkasa. Memiliki tinggi 180 sentimeter, kaki panjangnya tidak berguna saat berjalan di luar angkasa," kata Dudorov.

Badan antariksa Rusia Roscocmos mengatakan, kaki-kaki robot itu tidak dapat bergerak selama perjalanan di luar angkasa dan Fedor tidak diprogram untuk bergerak dengan menggengam pegangan tangan di stasiun luar angkasa dalam kondisi gravitasi mikro.

Karenanya, Rusia terus mengembangkan robot antariksa lebih canggih lagi agar bisa menjalankan tugas-tugas luar angkasa yang tidak mampu dilakukan robot-robot sebelumnya. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik

Tuesday, July 28, 2020

Ilmuwan Hidupkan Kembali Mikroba Berumur 100 Juta Tahun

Gambar yang diperbesar menunjukkan mikroba yang dihidupkan kembali dari sedimen berumur 101,5 juta tahun.
Rifan Financindo - Para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali mikroba yang telah tertidur selama lebih dari 100 juta tahun.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengumpulkan sampel sedimen kuno dari bawah dasar laut untuk lebih memahami iklim masa lalu, lempeng tektonik, dan ekosistem laut dalam.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Badan Geomikrobiologi Ilmu dan Teknologi Laut-Bumi Jepang Dr. Yuki Morono mengumpulkan Sampel sedimen purba selama ekspedisi ke South Pacific Gyre

Baca Juga :

Di atas kapal, JOIDES Resolution , Dr. Morono dan rekannya mengebor banyak sedimen core 100 m (328 kaki) di bawah dasar laut dan hampir 6 km (3,7 mil) di bawah permukaan laut.

Para ilmuwan menemukan bahwa oksigen ada di semua inti, menunjukkan bahwa jika sedimen terakumulasi secara perlahan di dasar laut dengan kecepatan tidak lebih dari 1-2 m (3,3-6,6 kaki) setiap juta tahun, oksigen akan menembus jauh-jauh dari dasar laut ke ruang bawah tanah.
Yuki Morono (kiri) dan Steven D'Hondt (paling kanan) di kapal bor penelitian Resolusi JOIDES dengan core sedimen yang dikumpulkan dari South Pacific Gyre. Foto: IODP JRSOYuki Morono (kiri) dan Steven D'Hondt (paling kanan) di kapal bor penelitian Resolusi JOIDES dengan core sedimen yang dikumpulkan dari South Pacific Gyre. Foto: IODP JRSO Foto: undefined

Kondisi seperti itu memungkinkan mikroorganisme aerob untuk bertahan hidup dalam skala waktu geologis jutaan tahun meski tidak memiliki nutrisi.

Para ilmuwan kemudian menginkubasi sampel mikroba hingga 557 hari dalam pengaturan laboratorium yang aman, menyediakan sumber karbon dan nitrogen 'makanan' seperti amonia, asetat, dan asam amino. Hasilnya alih-alih menjadi fosil sisa-sisa kehidupan, mikroba itu tumbuh, berlipat ganda, dan menampilkan beragam aktivitas metabolisme.

"Awalnya saya skeptis, tetapi kami menemukan bahwa hingga 99,1% dari mikroba dalam endapan yang disimpan 101,5 juta tahun lalu masih hidup," kata Dr. Morono dilansir dari Scitechdaily.

"Kami sekarang tahu bahwa tidak ada batasan umur untuk (organisme di) biosfer bawah laut". Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Monday, July 27, 2020

Mungkinkah Kita Hidup di Bulan?

Ilustrasi Super Moon

PT Rifan Financindo - Gagasan membangun peradaban di Bulan telah lama menjadi imajinasi orang. Tapi bagaimana rasanya hidup di bulan?

Eksplorasi ruang angkasa pun juga lama berfokus pada Bulan. Sebuah pesawat ruang angkasa Soviet tahun 1959 memotret sisi jauh Bulan untuk pertama kalinya, dan pada tahun 1969, NASA mendaratkan orang-orang di permukaan bulan untuk pertama kalinya.

Banyak misi yang mengikuti, termasuk Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA yang menjadi rumah peta bulan topografi beresolusi tertinggi dengan mencakup 98,2 persen permukaan bulan.


Baca Juga :
Secara keseluruhan, data yang dikirim kembali dari berbagai misi menunjukkan bahwa hampir tidak ada tempat di Bulan yang potensial menjadi tempat untuk hidup.

Siang hari di Bulan berlangsung selama sekitar 14 hari Bumi dengan suhu rata-rata 253 derajat Fahrenheit atau 123 derajat Celsius, sementara malam Bulan juga berlangsung selama 14 hari Bumi (karena rotasi Bulan) dan mempertahankan suhu dingin sekitar -233 derajat Celsius.

"Tentang satu-satunya tempat kita dapat membangun pangkalan, anehnya, berada di dekat kutub bulan," kata Rick Elphic, ilmuwan proyek untuk penyelidikan LADEE NASA, yang mempelajari atmosfer Bulan.

Daerah-daerah ini kemungkinan menyimpan sejumlah besar air atau es dan tingkat cahaya rendah dari Matahari selama beberapa waktu. Suhunya sekitar 0 derajat Celsius, demikian melansir Space.

Hmm mungkin di masa mendatang, wisata atau hidup di Bulan bisa saja terwujud. Bagaimana menurut kalian, detikers? PT Rifan Financindo.

Sumber : Detik

Sunday, July 26, 2020

Kisah Charles Darwin, Enggan Jadi Dokter Lalu Temukan Teori Evolusi


Charles Darwin

Rifanfinancindo - Charles Robert Darwin merupakan seorang ilmuwan yang meneliti tentang sejarah alam. Dia lebih dikenal dengan nama Charles Darwin, mirip dengan nama pamannya yang wafat saat masih jadi mahasiswa kedokteran di Edinburgh University. Darwin pun sempat mengikuti jejak paman dan ayahnya Robert Waring Darwin kuliah kedokteran di universitas yang sama.

Namun rupanya Darwin lebih tertarik mempelajari soal sejarah flora dan fauna ketimbang anatomi serta fisiologi manusia. Dia kemudian menemukan teori evolusi yang menimbulkan kontroversi masa itu.

Kisah Hidup Charles Darwin

Bagi yang belum mengetahui kisah hidup Charles Darwin, berikut sejumlah faktanya:

1. Berasal dari keluarga kaya dan terpelajar
Charles Darwin dilahirkan di Shrewsbury, Inggris pada 12 Februari 1809. Dia anak kelima dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga berada dan terpelajar. Kakek dari garis ibunya, Josiah Wedgewood seorang pengusaha tembikar yang anti perbudakan. Sementara kakek dari garis ayahnya, Erasmus Darwin adalah seorang dokter dengan pemikiran-pemikiran revolusioner yang melampaui masanya.

Baca Juga :

2. Batal jadi dokter, masuk sekolah teologi
Mengikuti jejak kakek dan ayahnya, Darwin belajar ilmu kedokteran di Edinburgh University dalam usia 16 tahun. Namun dia tak kuat melihat darah dalam praktik pembedahan. Ini membuat Charles Darwin berpikir kembali niatnya menjadi dokter.

Selama berada di Edinburgh University dia justru lebih tertarik mencari tahu soa proses kimiawi pendinginan bebatuan di zaman bumi purba, bagaimana cara mengklasifikasi flora, dan belajar tentang burung pada John Edmondstone.

Charles Darwin memutuskan keluar dari sekolah kedokteran. Ayahnya mendaftarkan dirinya untuk belajar teologi di Cambridge University pada 1827. Namun ketertarikannya pada biologi tak padam. Dia mengumpulkan berbagai macam jenis kumbang untuk diamati. Di Cambridge pula Darwin bertemu dengan seorang profesor botani John Stevens Henslow yang kemudian jadi mentornya.

3. Mengikuti perjalanan survei kapal HMS Beagle
Charles Darwin menyelesaikan sekolah teologinya pada 1831. Namun dia memutuskan tidak menjadi pendeta. Atas rekomendasi mentornya di Cambridge University dia mengikuti pelayaran keliling dunia kapal HMS Beagle milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Sebenarnya tujuan utama perjalanan ini adalah untuk mensurvei garis pantai Amerika Selatan dan memetakan pelabuhannya.

Darwin mengambil kesempatan saat kapal bersandar dengan mengumpulkan sampel tanaman, hewan, batu, dan fosil. Dia menjelajahi daerah di Brasil, Argentina, Cili, dan pulau-pulau terpencil seperti Galapagos. Dari semua tempat tersebut, Pulau Galapagos paling menyita perhatiannya. Semua spesimen yang didapatkan lalu dikirim ke Inggris dengan kapal lain.

Pada bagian terakhir dari perjalanan, Darwin menyelesaikan buku hariannya sepanjang 770 halaman dan 1.750 halaman catatan. Dia juga menyusun 12 katalog dari spesimen 5.436 kulit dan tulang belulang. Dia mendarat kembali ke Inggris pada Oktober 1836.

4. Charles Darwin mengeluarkan teori evolusi
Analisis Charles Darwin terhadap tumbuhan dan hewan yang dikumpulkan itu membawanya untuk mempertanyakan bagaimana spesies terbentuk dan berubah seiring waktu. Dia lalu mengembangkan teori revolusioner tentang asal usul makhluk hidup yang kontras dengan pandangan naturalis lainnya kala itu. Pada 1858, Darwin menerbitkan pemikirannya tentang evolusi dan seleksi alam dalam On the Origin of Species. Buku inilah yang sempat menjadi kontroversi sekaligus menjadi legendaris. Rifanfinancindo.

Sumber : Detik

Thursday, July 23, 2020

Virus Corona Sudah Bermutasi, Uji Vaksin di Indonesia Percuma?

Oxford University: Produksi Vaksin Corona Mungkin Bisa Dimulai Akhir Tahun Ini

Rifan Financindo - Indonesia, Brasil dan India menjadi tempat uji klinis fase 3 calon vaksin Corona. Eh tapi, virusnya kan sudah bermutasi.

Apakah uji klinis masih efektif dalam kondisi demikian? Untuk itu detikINET bertanya pada pakar bioteknologi dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr.rer.nat Wien Kusharyoto.

Menurut Wien, sejauh ini sudah ada 16 mutasi SARS-CoV-2. Namun selama akarnya adalah virus dari Wuhan, maka mutasi ini tetap akan kalah oleh vaksin.

Baca Juga :


"Saya tidak terlalu khawatir dengan strain yang berbeda. Karena mutasi ini sporadis dan tidak berpengaruh terhadap efektivitas vaksin," kata Wien kepada detikINET.

Wien optimistis uji klinis fase 3 akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan vaksin Corona. Dia pribadi berpendapat, berdasarkan pengalaman uji vaksin pada penyakit lain, yang nanti harus diperhatikan para ilmuwan adalah efek samping yang ditimbulkan oleh calon vaksin.

"Vaccine induced disease enhancement, itu yang harus dievaluasi dari metode virus yang dilemahkan," kata dia.

Wien mencontohkan efek samping itu misalnya membuat orang dengan masalah penyakit tertentu ketika diberi vaksin malah jadi lebih parah. Namun bisa dimaklumi bahwa yang namanya uji klinis fase 3 tujuan utamanya adalah menyempurnakan calon vaksin Corona agar nantinya bisa diproduksi secara massal.

"Tahap 3 yang penting untuk mengetahui apakah ada efek samping yang muncul. Makanya lebih banyak sampel dan di kelompok umur berbeda, lokasi dan sosio ekonomi jadi pertimbangan," pungkasnya.

Vaksin Corona Sinovac rencananya akan uji klinis fase 3 di Indonesia dengan menggandeng Bio Farma. Indonesia dipilih karena laju infeksi masih tinggi, sehingga bisa untuk mengukur efektivitas dan manfaat calon vaksin yang diujikan. Selain itu, Indonesia juga punya kapasitas untuk nantinya memproduksi sendiri melalui Bio Farma. Rifan Financindo.

Sumber : detik